apa tidak ada yang lain..?

. Rabu, 25 Mei 2011
0 comments

Dalam sebuah pengajian, dengan semangat dan akrab seorang ustad menyampaikan kepada  jamaah yang hadir tentang kehidupan kelak di surga, bagi orang-orang yang bertaqwa. Sang ustad menyapa jamaah ibu-ibu, "Bu, kalau ibu-ibu yang hadir ini semuanya taqwa kepada Allah, rajin beribadah, beramal sholih, menjaga silaturahiim, taat pada suami, tidak menyakiti hati orang lain, tidak bermaksiat, maka insyaAllah, nanti akan dimasukkan  surga, dan ketemu dengan suami masing-masing yang juga orang sholih, ibu-ibu pengin kan?" tanya sang ustad, "Mau Ustad, amiin, semoga Allah mengabulkan", demikian jawab ibu-ibu dengan kompak.

Kemudian sang ustad menyapa bapak-bapak, "Bapak, demikian halnya bapak-bapak, kalau yang hadir ini semuanya taqwa kepada Allah, sayang istri dan anak-anak, menjaga silaturahiim, tidak berbuat maksiat, maka insyaAllah nanti akan masuk surga, dan ketemu kembali dengan istri masing-masing yang sholihah, bagaimana bapak-bapak, pengin kan?" tanya sang ustad, bapak-bapak terlihat menggut-manggut dan berpikir sejenak "Ustad, kok ketemu lagi, apa tidak ada yang lain?"............... 

BEDA PENDAPAT...? Boleh Saja, asal.............

.
0 comments


11:118
11:119
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. Hud 118 - 119)

          Mejadi keniscayaan (sunnatulloh) bahwa perbedaan itu akan tetap dan selalu ada, hatta pada pribadi orang kembar sekalipun, sisi fisik, penampilan, gaya bicara, gaya berjalan, selera, dan tentunya pendapat / pemikiran. Diperlukan kebesaran jiwa dan kelapangan hati untuk bisa memahami perbedaan itu. Namun ada juga perbedaan yang mutlak dan tidak bisa di kompromikan, yaitu masalah ideologi sebagai hamba terhadap Sang Pencipta. Kalau ada yang berpendapat, bahwa Allah lebih dari satu, berputra dan diputrakan, maka saya pasti menolak, karena ini prinsip tauhid yang saya yakini.
          Prinsip dasarnya, dalam Islam Allah SWT telah memberikan guidance pada umat manusia untuk bersatu dan tidak berbeda-beda dalam beragama, berpadu dan tidak berselisih faham dalam menegakkan syari’ah-Nya (QS. 3:102-103). Allah SWT memperingatkan umat Islam agar  tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya. (QS. 3:105)

PERBEDAAN YANG MUNGKIN
         Perbedaan akan menjadikan kehidupan lebih harmonis, penuh warna. Betapa susahnya kita, andaikan Allah memberikan bentuk jari tangan dan kaki kita dalam ukuran yang sama, tentu kita akan susah bekerja. Andai gigi kita taring semua, apa yang akan terjadi pada mulut kita, hi... ngeri. Itulah perbedaan yang justru berkah dan rahmat, yang menjadi SARANA HIDUP ini (wasailul hayyat). Perbedaan akan menjadi terasa "panas" ketika menyentuh urusan JALAN HIDUP (minhajul hayyah) dan akan sangat krusial ketika terkait dengan ESENSI AGAMA (dzatuddiin)
Secara garis besar perbedaan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok :

PETIR : Tanda Kekuasaan Allah SWT

. Senin, 09 Mei 2011
0 comments

Jumat malam kemarin (6 Mei), selepas maghrib, lingkungan rumah mulai rintik-rintik hujan. Kakak Hilmi, menjelang berangkat ke "Langgar Pak Tolhah" dah pesen, "Bi, nanti nek hujan, aku dijemput ya" soalnya dia males bawa payung. Dan begitulah sesaat setelah maghrib, hujan pun turun dengan lumayan lebat.
              Sesuai dengan janjiku kepada kakak, maka saat adzan isya berkumandang sudah aku siapkan 2 buah jas hujan, satu segera tak pakai, satu aku taruh di keranjang sepada polygon. Sambil megangi kerudung kepala jas hujan, kukayuh perlahan polygonku menuju Langgar Pak Tolhah. Saat sampai di langgar, anak-anak sedang khusyu' wirid dipimpin Pak Tolhah dan diakhiri dengan doa bersama. Setelah cium tangan sang ustad, mulailah satu persatu, santri-santri kecil ini keluar langgar, sambil celingak-celinguk mencari penjemputnya. Demikian pula Kak Hilmi, segera menuju teras, tempat aku menunggu. Jas hujan yang tadi di keranjang sepeda, sekarang dah dipakai kakak, kebesaran memang, tapi justru lumayan melindungi tubuh kecilnya.
               Dengan beriringan, kami jalan kaki, polygon aku tuntun, sedang anakku berjalan kadang di sampingku, kadang di belakangku, karena hujan yang semakin lebat. Sambil berjalan perlahan aku katakan pada anakku, "mas, abi belum sholat, kita mampir masjid dulu ya, sambil nunggu biar agak reda". Alhamdulillah, di masjid baru mulai sholat isya, jadi masih kebagian jamaah isya. Sejenak berdzikir, kemudian kulanjutkan dengan sholat ba'diyah isya, nah saat aku takbir menjelang ruku, tiba-tiba ..LAP...DUA...RRR,

INVESTASI GENERASI

. Senin, 02 Mei 2011
0 comments

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An Nisa : 9)

Anak adalah permata hati, anak adalah penyejuk mata, dan yang pasti anak adalah AMANAH yang dititipkan Allah SWT kepada kedua orang tua, yang menjadi wasilah proses kejadian sampai dengan persalinannya. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, tentunya akan berusaha sekuat tenaga, bahkan mempertaruhkan apa saja untuk menjaga amanah tersebut. Dalam sebuah hadits Rosululloh Muhammad SAW telah memberikan nasihat yang tegas, bahwa keyakinan seorang anak adalah produk dari orang tuanya. Semua bayi lahir dalam keadaan FITROH (MUSLIM), maka orang tuanya-lah yang akan menjadikannya YAHUDI, MAJUSI atau NASRANI
Proses pendidikan di dalam rumah sampai dengan proses pemilihan tempat pendidikan oleh orang tualah yang akan membentuk keyakinan sang anak. Kalau ada pernyataan bahwa ada anak yang nakal, tidak punya sopan santun, tidak berakhlaq, yang patut dipertanyakan adalah : ANAK SIAPA ITU? SIAPA KEDUA ORANG TUANYA? BAGAIMANA CARA MENDIDIKNYA? DIMANA DI SEKOLAHKAN? Dan serentetan pertanyaan yang akan dialamatkan kepada orang tua, yang memang harus bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut.

PROBLEMATIKA BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL QURAN

. Jumat, 15 April 2011
0 comments

Sudah menjadi takdir Allah, Al quran diturunkan dalam bahasa Arab, namun tidak ada halangan dan alasan bagi umat Islam untuk tidak mengakuinya sebagai kitab suci, dan Allah SWT memberikan jaminan kemudahan untuk memperjarinya, sebagaimana tercantum dalam QS. Az Zukhruf dan Al Qomar


Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa arab supaya kamu memahami(nya).(QS. Az Zukhruf : 3)
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Qomar : 17)
Penjelasannya sebagai berikut :
a. Huruf lam ( ل ) pada kata laqod ( لَقَدْ ) adalah untuk menunjukkan penegasan/penekanan (taukid) bermakna sungguh.
b. Kata setelah Qod ( قَدْ ) adalah yassarna ( يسرنا - telah Kami mudahkan; Allah Swt yang berkata) yang berbentuk fi'il madhi (past tense); juga bermakna penegasan. Bermakna sungguh.

c. Kata yassarna - يسرنا berbentuk fi'il madhi, yang menunjukkan peristiwa yang telah terjadi.
d. Pada surat Al Qamar, kalimat tersebut diulang sebanyak 4 kali (dengan susunan kalimat sama persis 100%) yaitu pada ayat 17,22,32,& 40, yang juga dapat bermakna penegasan.
Dari hal tersebut, jika diungkapkan dalam bentuk lain seakan-akan Allah Swt berkata :

"Wahai orang-orang beriman, Sungguh…sungguh….sungguh…sungguh…. telah Kami mudahkan Al Qurán untuk pelajaran (dipelajari)".
Apabila kita berbicara kepada seseorang dengan membuat penegasan seperti itu, tentu dalam rangka meyakinkan dan menunjukkan bahwa ucapan kita itu memang betul-betul seperti apa yang kita ucapkan. Jaminan inilah yang semoga membuat kita menjadi optimis untuk semakin giat mempelajarinya, termasuk didalamnya mempelajari tata bahasa Arab.
Kondisi riil di masyarakat kita, masih kita temukan kendala dalam pembelajaran Al quran ini. Ada kecenderungan saat ini bahwa sebagian banyak umat Islam, menempatkan pembelajaran Alquran sebagai sesuatu yang tidak prioritas, sehingga terkesan asal anak-anak sudah diikutkan ngaji di lingkungan, TPQ, atau masjid sekitar, sudah dianggap cukup. Padahal belajar Al quran memerlukan kesungguhan, baik dalam hal waktu, metode dengan didukung sarana dan prasarana yang baik. Rasululloh SAW mengingatkan kita semua dengan sabdanya :
“(Kelak) Islam akan mengalami kelunturan seperti lunturnya batik baju, sehingga tidak diketahui lagi apa itu shalat, puasa, ibadah dan sedekah. Dan Al-Qur’an sungguh akan dibawa pergi, sehingga tak ada satupun yang tersisa di muka bumi ini. Golongan manusia yang tersisa adalah Kakek dan Nenek. Mereka berkata: “Kami mendapatkan kalimat seperti ini dari nenek moyang kami:Laa Ilaaha Illallah, oleh karena itu kami mengucapkannya.”

TILAWATI, Terobosan Baru Belajar Membaca Alquran

. Senin, 24 Mei 2010
0 comments


Metodologi pembelajaran Al Quran semakin variatif, dengan kelebihan yang ditawarkan oleh tiap-tiap metode. Satu diantaranya yang saat ini sedang semarak dipraktekkan adalah metode TILAWATI.
Sebagai metode baru, hasil kreasi para “GURU NGAJI” Jawa Timur ini menawarkan beberapa spesifikasi sebagai berikut :
  1. Metode Tilawati terdiri atas 6 jilid buku, termasuk GHORIB dan MUSYKILAT. Tiap-tiap jilid berbeda warna cover
  2. Masing-masing jilid dilengkapi dengan PERAGA yang berisi 20 halaman. Fungsi peraga akan membantu santri belajar secara klasikal dan memudahkan penguasaan materi karena peraga ini akan diulang- ulang (satu peraga bisa khatam antara 17 – 21 kali)
  3. Menggunakan irama LAGU ROST, sebagai lagu dasar yang mudah difahami dan ditirukan
Perjalanan pembelajaran Al quran yang selama ini telah dilakukan dengan berbagai jenis metode, menemukan beberapa permasalahan yang menjadi dasar lahirnya Metode TILAWATI ini, diantaranya :

Stop RBT dari Ponsel Anda

. Rabu, 15 April 2009
0 comments

RBT pada awalnya menjadi sebuah kebanggaan dari pemilik hp, yang ternyata justru tidak bisa menikmati indahnya suara di RBT itu. Why? Ya, karena yang bisa mendengar justru orang lain yang sedang menghubungi kita, padahal kita yang terkena charge untuk biaya langganannya, nah ini yang bikin pusing, pulsa berkurang. Nah bagi sahabat-sahabat yang pengin berhenti menggunakan RBT, ini ada tips yang bisa dicoba :


  1. Telkomsel (HALO, SIMPATI dan KARTU AS) kirim ke 1212 dan ketik: RING(spasi)OFF
  2. Indosat -update- (MATRIX, MENTARI, IM3 dan STARONE) kirim ke 808 dan ketik: STOP atau UNREG Cara lain via menu sat@ccess dan pilih iring
  3. Excelcomindo/XL (XPLORE, BEBAS dan JEMPOL) kirim ke 1818 dan ketik: UNSUB
  4. THREE/3 kirim ke 1212 dan ketik: RBT(spasi)UNREG
  5. Natrindo Telekom Selular (AXIS) kirim ke 333 dan ketik: OFF
  6. Mobile-8 (FREN dan HEPI) kirim ke 2525 dan ketik: RINGGO(spasi)HAPUS
  7. Bakrie Telecom (ESIA) kirim ke 8888 dan ketik: RING(spasi)UNSUB
  8. Telkom (FLEXI) kirim ke 1212 dan ketik: RING(spasi)OFF
  9. Sampoerna Telecom (CERIA) kirim ke 234 dan ketik: REG(spasi)OFF, atau hubungi 234 dari telpon ceria
  10. Smart Telecom (SMART) kirim ke 2525 dan ketik: DEL(spasi)KodeLagu, Jika ingin meng-nonaktifkan sementara waktu, ketik: OFF dan kirim ke 2525
Nah, semoga bermanfaat, selamat mencoba

thanks to http://unek2.multiply.com/journal/item/85