Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS. Hud 118 - 119)
Mejadi keniscayaan (sunnatulloh) bahwa perbedaan itu akan tetap dan selalu ada, hatta pada pribadi orang kembar sekalipun, sisi fisik, penampilan, gaya bicara, gaya berjalan, selera, dan tentunya pendapat / pemikiran. Diperlukan kebesaran jiwa dan kelapangan hati untuk bisa memahami perbedaan itu. Namun ada juga perbedaan yang mutlak dan tidak bisa di kompromikan, yaitu masalah ideologi sebagai hamba terhadap Sang Pencipta. Kalau ada yang berpendapat, bahwa Allah lebih dari satu, berputra dan diputrakan, maka saya pasti menolak, karena ini prinsip tauhid yang saya yakini.
Prinsip dasarnya, dalam Islam Allah SWT telah memberikan guidance pada umat manusia untuk bersatu dan tidak berbeda-beda dalam beragama, berpadu dan tidak berselisih faham dalam menegakkan syari’ah-Nya (QS. 3:102-103). Allah SWT memperingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya. (QS. 3:105)
PERBEDAAN YANG MUNGKIN
Perbedaan akan menjadikan kehidupan lebih harmonis, penuh warna. Betapa susahnya kita, andaikan Allah memberikan bentuk jari tangan dan kaki kita dalam ukuran yang sama, tentu kita akan susah bekerja. Andai gigi kita taring semua, apa yang akan terjadi pada mulut kita, hi... ngeri. Itulah perbedaan yang justru berkah dan rahmat, yang menjadi SARANA HIDUP ini (wasailul hayyat). Perbedaan akan menjadi terasa "panas" ketika menyentuh urusan JALAN HIDUP (minhajul hayyah) dan akan sangat krusial ketika terkait dengan ESENSI AGAMA (dzatuddiin)
Secara garis besar perbedaan dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok :